<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink"
         article-type="research-article"
         dtd-version="1.1"
         specific-use="production"
         xml:lang="id">
   <front>
      <journal-meta>
         <journal-id journal-id-type="publisher">Tarbiyah: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Pengajaran</journal-id>
         <journal-title-group>
            <journal-title>Tarbiyah: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Pengajaran</journal-title>
         </journal-title-group>
         <publisher>
            <publisher-name>STAI UISU Pematangsiantar</publisher-name>
         </publisher>
      </journal-meta>
      <article-meta>
         <article-id pub-id-type="publisher-id">ID_24_6_12</article-id>
	<article-id pub-id-type="doi">https://doi.org/10.64464/tarbiyah.v1i1.24</article-id>
         <article-categories>
            <subj-group>
               <subject>Research Article</subject>
            </subj-group>
            <subj-group subj-group-type="section">
               <subject>Assessment, Testing and Applied Measurement</subject>
            </subj-group>
         </article-categories>
         <title-group>
            <article-title>Paradigma Penelitian Kuantitatif Dalam Jurnal Ilmiah Metodologi Penelitian Kuantitatif</article-title>
         </title-group>
         <contrib-group>
            <contrib contrib-type="author">
               <name name-style="western">
                  <surname>Andini</surname>
                  <given-names>Widia</given-names>
               </name>
               <xref ref-type="aff" rid="aff1">1</xref>
               <email>widiaandini@gmail.com</email>
            </contrib>
            <contrib contrib-type="author">
               <name name-style="western">
                  <surname>Fitriani</surname>
                  <given-names>Diah</given-names>
               </name>
               <xref ref-type="aff" rid="aff2">2</xref>
               <email>diahfitriani440@gmail.com</email>
            </contrib>
            <contrib contrib-type="author" corresp="yes">
               <name name-style="western">
                  <surname>Purba</surname>
                  <given-names>Laila Khairun Nisa</given-names>
               </name>
               <xref ref-type="aff" rid="aff3">3</xref>
               <xref ref-type="corresp" rid="cor1"/>
               <email>khairunisapurba2002@gmail.com</email>
            </contrib>
            <aff id="aff1">
               <label>1</label>
               <institution content-type="orgname">STAI UISU Pematangsiantar</institution>
            </aff>
            <aff id="aff2">
               <label>2</label>
               <institution content-type="orgname">STAI UISU Pematangsiantar</institution>
            </aff>
            <aff id="aff3">
               <label>3</label>
               <institution content-type="orgname">STAI UISU Pematangsiantar</institution>
            </aff>
         </contrib-group>
         <author-notes>
            <corresp id="cor1">
               <label>Corresponding Author:</label>
               <string-name>Laila Khairun Nisa Purba</string-name>;
               <email>khairunisapurba2002@gmail.com</email>
            </corresp>
         </author-notes>
         <pub-date date-type="pub" iso-8601-date="2022-04-30" publication-format="electronic">
            <day>30</day>
            <month>4</month>
            <year>2022</year>
         </pub-date>
         <history>
            <date date-type="received" iso-8601-date="2022-02-15">
               <day>15</day>
               <month>2</month>
               <year>2022</year>
            </date>
            <date date-type="accepted" iso-8601-date="2022-04-18">
               <day>18</day>
               <month>4</month>
               <year>2022</year>
            </date>
         </history>
         <volume>1</volume>
         <issue>1</issue>
         <fpage>6</fpage>
         <lpage>12</lpage>
         <permissions>
            <copyright-statement>© 2022, Andini W., Fitriani D., Purba L.K.N.</copyright-statement>
            <copyright-year>2022</copyright-year>
            <copyright-holder>Andini W., Fitriani D., Purba L.K.N.</copyright-holder>
            <license xlink:href="https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/">
               <license-p>This is an open access article under the <ext-link ext-link-type="uri"
                            xlink:href="https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/">CC BY-NC-SA license</ext-link>.</license-p>
            </license>
         </permissions>
         <self-uri xlink:href="https://jurnal.diklinko.id/index.php/tarbiyah/"/>
         <abstract abstract-type="short">
            <title>Abstract</title>
            <p>Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan, menjelaskan, dan mendeskripsikan bagaimana paradigma penelitian yang ada di penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Penyelesaian masalah penelitian pada tahap awal ditentukan paradigma dari peneliti. Paradigma merupakan suatu cara pandang, cara memahami, cara menginterpretasi, suatu kerangka berfikir, dasar keyakinan yang memberikan arahan pada tindakan. Dalam penyelesaian masalah, peneliti diharuskan melihat dari sudut pandang yang mampu dilakukan oleh peneliti tersebut. Peneliti mengumpulkan data dan menganalisa dari awal penemuan permasalahan dan berlanjut kepada tahap-tahap berikutnya misalnya tahap perumusan masalah, telaah teoretis, verifikasi data, dan kesimpulan. Dasar berfikir positivistik dalam upaya mencari kebenaran dilandaskan pada besar kecilnya frekuensi kejadian atau variasi obyek. Paradigma penelitian ini memiliki beberapa jenis diantaranya yaitu paradigma positivis, paradigma interpretif, paradigma kritis. Metode penelitian kuantitatif diartikan sebagai metode penelitian yang berdasarkan pada paradigma positivisme, yang pada dasarnya dipergunakan dalam meneliti populasi dan sampel tertentu. Paradigma penelitian kualitatif menganut model humanistik karena menjadikan manusia sebagai subjek penelitian di dalam fenomena atau peristiwa yang akan diteliti.</p>
         </abstract>
         <kwd-group kwd-group-type="author-keywords">
            <title>Keywords</title>
            <kwd>Media Pembelajaran</kwd>
            <kwd>Keefektifan proses belajar mengajar</kwd>
            <kwd>Pengaruh media pembelajaran terhadap keefektifan proses belajar</kwd>
         </kwd-group>
      </article-meta>
   </front>
   <body>
      <sec>
         <title>1. PENDAHULUAN</title>
         <p>Sering kali di jumpai banyak hal yang beragam dalam kehidupan, baik peristiwa, benda bahkan hal lainnya yang biasanya memiliki sebuah arti yang unik. Rasa ingin tahu sebagai seorang manusia cukup tinggi, hingga terciptalah sebuah penelitian yang tujuannya ingin mencari tahu seluk beluk bahkan memecahkan masalah dalam berbagai hal. Menggali berbagai informasi pengetahuan dalam sebuah penelitian tentunya membutuhkan sebuah data yang akurat agar pencapaian tujuan yang di tentukan sebelumnya dapat terealisasi.</p>
         <p>Penelitian pada dasarnya merupakan sebuah upaya atau kegiatan yang bertujuan untuk mencari dan menemukan kebenaran dari objek penelitian yang di tentukan, sehingga seorang yang melakukan penelitian harus mengerti arah dan fokus dalam melakukan penelitian. Seringkali penelitian yang di lakukan kurang berhasil, di karenakan masalah yang di tentukan tidak di temukan titik terangnya yang menjadikan penelitian tersebut gagal. Untuk itu di perlukan sebuah arahan atau acuan yang dapat membuka sudut pandang seorang peneliti menjadi lebih luas, sehingga dalam melakukan penelitian, seorang peneliti dapat dengan mudah mengidentifikasi permasalahan yang di hadapi berdasarkan sudut pandang yang lebih terarah dan akhirnya memudahkan dalam proses penelitiannya. Untuk itu, maka makalah ini akan membahas mengenai paradigma penelitian atau sudut pandang yang mengarahkan seorang peneliti dalam berfikir sehingga penelitian yang di lakukan dapat berhasil sesuai tujuan.</p>
         <sec>
            <title>Paradigma Penelitian</title>
            <p>Paradigma memiliki arti sebagai sebuah sudut pandang untuk menilai fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar serta pedoman cara bersikap menanggapi fenomena yang terjadi. Paradigma diartikan sebagai sebuah rangkaian asumsi dan sebuah keyakinan. Asumsi ini kemudian dianggap sebagai sebuah kebenaran yang dapat dipercaya, serta kebenarannya dapat dibuktikan secara empirik hingga akhirnya asumsi tersebut bisa divalidasi sebagai accepted assume to be true.</p>
            <p>Paradigma merupakan seperangkat konsep yang berhubungan satu sama lain secara logis dan membentuk sebuah kerangka pemikiran yang berfungsi untuk memahami, menafsirkan dan menjelaskan kenyataan dan/atau masalah yang dihadapi. Pemahaman konsep paradigma tersebut relevan untuk pengembangan penelitian dan ilmu pengetahuan. Paradigma merupakan pandangan dasar mengenai pokok bahasan ilmu. Paradigma mendefinisikan dan membantu menemukan sesuatu yang harus diteliti dan dikaji, pertanyaan yang harus dimunculkan, cara merumuskan pertanyaan, dan aturan-aturan yang harus diikuti dalam mengintepretasikan jawaban. Paradigma adalah bagian dari kesepakatan (consensus) terluas dalam dunia ilmiah yang berfungsi membedakan satu komunitas ilmiah tertentu dengan komunitas lainnya. Paradigma berkaitan dengan pendefinisian, teori, metode, hubungan antara model, serta instrumen yang tercakup di dalamnya.</p>
            <p>Istilah paradigma pertama kali dikemukakan oleh Khun tahun 1996 sebagai "bangunan" yang mencangkup seluruh konstelasi kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai dan konsep-konsep yang dipedomani oleh komunitas ilmiah. Jadi, dari beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandangan peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan pelakuan peneliti terhadap ilmu dan teori, yang di konstruksi sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari.</p>
         </sec>
         <sec>
            <title>Jenis-Jenis Paradigma Penelitian</title>
            <p>Ada beberapa aliran filsafat yang dijadikan para ilmuan sebagai paradigma penelitian diantaranya yaitu positivisme dan postpositivisme/fenomenologis yang mana diantara aliran filsafat tersebut akan menjadi suatu paradigma yang dapat menentukan seorang peneliti dalam memilih metode penelitian yang akan diteliti.</p>
            <p>Positivisme, menganggap realitas itu betul-betul ada secara nyata, dan dapat diselidiki secara terpisah. Penelitian dan objek yang diteliti adalah independent dan peneliti mampu tanpa mempengaruhi objek atau dipengaruhi oleh keadaan. Cara menelitinya bisa dengan percobaan atau manipulasi, sehingga dapat dikontrol objektivitasnya.</p>
            <p>Paradigma postpositivisme mengakui tentang realitas objektif, akan tetapi pengertiannya tidak dapat ditangkap secara sempurna dan mengandung serba kemungkinan, karena kelemahan intelektual manusia dan fenomena alam yang mudah berubah. Oleh karena itu perlu keterlibatan subjektif untuk memudahkan memahami realitas sedekat mungkin dengan kenyataan yang sesungguhnya (metodologi kualitatif).</p>
            <p>Jenis paradigma penelitian dapat dijadikan sebagai indikator untuk menentukan pendekatan, metode, dan jenis penelitian sehingga penelitiannya berkualitas. Jenis paradigma penelitian dibagi menjadi 3, yaitu positivis, interpretif, dan kritis.</p>
            <sec>
               <title>Paradigma Positivis</title>
               <p>Paradigma positivis lahir dari pemikiran seorang filsuf terkenal yaitu Auguste Comte. Pemikiran tersebut dituangkan dalam bukunya yang berjudul Cours de Philosophie Positive. Pemikiran-pemikirannya cukup berpengaruh yang dituangkan dalam tulisan-tulisannya antara lain Cours de Philosophie Positive (Kursus filsafat positif) dan Systeme de Politique Positive (Sistem politik positif). Pandangan paradigma ini didasarkan pada hukum-hukum dan prosedur-prosedur yang baku; ilmu dianggap bersifat deduktif, berjalan dari hal yang umum dan bersifat abstrak menuju yang konkrit dan bersifat spesifik; ilmu dianggap nomotetik, yaitu didasarkan pada hukum-hukum yang kausal yang universal dan melibatkan sejumlah variabel. Paradigma positivis pada akhirnya melahirkan pendekatan kuantitatif.</p>
            </sec>
            <sec>
               <title>Paradigma Interpretif</title>
               <p>Paradigma interpretif adalah paradigma yang melihat bagaimana masalah dikonstruksi, pola yang terjadi, serta mencari penjelasan mengenai peristiwa sosial atau budaya. Paradigma interpretif merupakan cara pandang yang lebih bersifat subjektif karena pertimbangan utamanya berdasarkan pada perspektif dan pengalaman dari orang yang diteliti. Berkebalikan dari paradigma positivis, paradigma interpretif ciri ilmunya bersifat induktif yaitu dari spesifik menuju ke umum atau abstrak.</p>
               <p>Secara umum, paradigma ini dilakukan dengan observasi secara langsung sehingga didapatkan fakta yang spesifik dan kontekstual yang memiliki makna yang berbeda-beda tergantung dari situasi sosialnya. Oleh sebab itu, penggunaan paradigma ini memiliki ambiguitas yang besar serta pendekatan penelitiannya bersifat kualitatif. Pendekatan interpretif berangkat dari upaya untuk mencari penjelasan tentang peristiwa-peristiwa sosial atau budaya yang didasarkan pada perspektif dan pengalaman orang yang diteliti. Pendekatan interpretatif diadopsi dari orientasi praktis. Secara umum pendekatan interpretatif merupakan sebuah sistem sosial yang memaknai perilaku secara detail langsung mengobservasi. Interpretif melihat fakta sebagai sesuatu yang unik dan memiliki konteks dan makna yang khusus sebagai esensi dalam memahami makna sosial. Interpretif melihat fakta sebagai hal yang cair (tidak kaku) yang melekat pada sistem makna dalam pendekatan interpretatif.</p>
               <p>Paradigma ini menekankan pada ilmu bukanlah didasarkan pada hukum dan prosedur yang baku. Setiap gejala atau peristiwa bisa jadi memiliki makna yang berbeda; ilmu bersifat induktif, berjalan dari yang spesifik menuju ke yang umum dan abstrak. Ilmu bersifat idiografis, artinya ilmu mengungkap realitas melalui simbol-simbol dalam bentuk deskriptif. Pendekatan interpretif pada akhirnya melahirkan pendekatan kualitatif.</p>
            </sec>
            <sec>
               <title>Paradigma Kritis</title>
               <p>Paradigma kritis lahir dari adanya pendapat ilmuwan yang menemukan kelemahan dari paradigma sebelumnya, yaitu paradigma interpretif. Kelemahan paradigma interpretif salah satunya adalah hanya berisi penjelasan secara deskriptif mengenai suatu ilmu. Oleh sebab itu paradigma kritis muncul tidak hanya berisi penjelasan mengenai suatu masalah, tetapi juga dibentuk melalui aksi sosial. Dalam paradigma ini terdapat konsep kritik internal yang melihat penelitian dengan memfokuskan terhadap alasan teoritis dan metode yang dilakukan dalam pengumpulan data. Konsep lainnya yaitu menggunakan logika yang difokuskan pada skeptisisme yang berkaitan dengan ide dan pemikiran melalui sosial historisnya. Dengan demikian, paradigma kritis ini berpandangan bahwa untuk mendapatkan kebenaran, perlu dilakukannya hubungan antara tindakan penelitian dengan pendekatan situasi historisnya seperti situasi politik, kebudayaan, ekonomi, dsb.</p>
               <p>Ciri khas paradigma Kritis adalah bahwa paradigma ini berbeda dengan pemikiran filsafat dan sosiologi tradisional. Pendekatan paradigma kritis tidak bersifat kontemplatif atau spekulatif murni. Teori Kritis pada titik tertentu memandang dirinya sebagai pewaris ajaran Karl Marx, sebagai teori yang menjadi emansipatoris. Teori Kritis tidak hanya mau menjelaskan, mempertimbangkan, merefleksikan dan menata realitas sosial tapi juga ingin membongkar ideologi-ideologi yang sudah ada. Pandangan paradigma ini menekankan pada ilmu bukanlah didasarkan pada hukum dan prosedur yang baku, tetapi untuk membongkar ideologi-ideologi yang sudah ada dalam pembebasan manusia dari segala belenggu penghisapan dan penindasan.</p>
            </sec>
         </sec>
      </sec>
      <sec>
         <title>2. METODE</title>
         <p>Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat studi pustaka (library research) yang menggunakan buku-buku dan literatur-literatur lainnya sebagai objek yang utama dalam mengambil sumber data dan informasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi pustaka, yaitu penelitian yang menghasilkan informasi berupa catatan dan data deskriptif yang terdapat di dalam teks yang diteliti.</p>
      </sec>
      <sec>
         <title>3. PEMBAHASAN</title>
         <sec>
            <title>Paradigma Penelitian Kuantitatif</title>
            <p>Paradigma kuantitatif adalah paradigma yang dilandasi oleh filsafat positivisme, dimana tidak mengakui adanya unsur teologi dan juga metafisik. Paradigma yang satu ini meyakini bahwa ilmu pengetahuan merupakan satu-satunya pengetahuan yang valid. Pengetahuan yang dimaksud tersebut yaitu pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman yang sudah kita lalui. Dimana pengalaman itu kita rasakan oleh indera kita yang nantinya akan diolah oleh pikiran kita sendiri.</p>
            <p>Karena berawal dari pengalaman pribadi, maka objek penelitian biasanya tidak jauh dari hubungan dan sebab akibat antara pengalaman yang sudah kita lalui dan fenomena yang ada. Walaupun berasal dari pengalaman yang kita lalui, penelitian tetap saja berdasarkan fakta yang ada. Selain itu, penelitian juga dapat dilandasi oleh asumsi dengan melihat fakta yang ada. Sehingga, paradigma tersebut menggunakan asumsi kita yang telah kita bangun dari fakta yang kita dapatkan dari proses berpikir kita terkait fenomena ataupun kejadian tertentu.</p>
            <p>Selain itu, paradigma kuantitatif juga mempunyai pandangan bahwa sumber ilmu salah satunya yaitu pemikiran rasional data empiris. Pemikiran tersebut didasari dari kesesuaian dengan teori terdahulu yang umumnya disebut sebagai koherensi. Dimana di dalam prosesnya, diawali dari asumsi ataupun yang biasanya kita sebut sebagai perumusan hipotesis. Untuk kemudian diverifikasi supaya mendapatkan teori baru. Dalam memandang sebuah peristiwa, paradigma kuantitatif berpandangan bahwa variabel yang ada didalamnya bisa saja berubah bergantung dengan kondisi dan situasi. Oleh sebab itu, pada penelitian kuantitatif hanya memakai variabel tertentu saja. Dimana variabel yang dipakai umumnya hanya yang berhubungan dengan tujuan penelitian yang akan dilakukan.</p>
            <p>Penelitian kuantitatif yang berlandaskan pada paham empirisme positivisme melihat bahwa kebenaran berada dalam fakta-fakta yang dapat dibuktikan atau diuji secara empiris. Penelitian ini mengelaborasi tiga poin penting untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam. Poin yang pertama adalah menjelaskan fenomena atau gejala yang terjadi sebagai gambaran akan keingintahuan dan keinginan untuk mendapat pemahaman mengenai suatu kondisi atau kejadian. Poin kedua adalah penggunaan jenis data numerik atau data dalam bentuk angka-angka sebagai bahan utama untuk melakukan analisis. Poin ketiga adalah menggunakan statistik dalam melakukan analisis. Prosedur pelaksanaan penelitian kuantitatif amat ketat karena umumnya penelitian ini dilakukan untuk memverifikasi sebuah teori melalui pengujian hipotesis yang sejak awal sudah ditentukan dengan mengacu pada kerangka teori tertentu.</p>
         </sec>
         <sec>
            <title>Paradigma Penelitian Kualitatif</title>
            <p>Paradigma penelitian kualitatif adalah penelitian yang menempatkan manusia sebagai subjek penelitian. Paradigma tersebut termasuk menganut model humanistik karena menjadikan manusia sebagai subjek penelitian di dalam fenomena ataupun peristiwa yang akan kita teliti. Selain itu, paradigma kualitatif percaya bahwa manusia yang nantinya menentukan perilaku dirinya sendiri dan juga peristiwa sosial yang terjadi. Filsafat fenomenologis milik Edmund Husserl yang nantinya dikembangkan dalam sosiologi oleh Max Weber menjadi landasan dari paradigma tersebut.</p>
            <p>Pandangan itu menilai bahwa perilaku manusia dilandasi oleh pemikiran ataupun doktrin yang dimiliki oleh individu itu. Sehingga saat kita menggunakan paradigma kualitatif, suatu peristiwa tak hanya dipandang secara tunggal. Namun banyak unsur, aspek, dan hal lainnya yang membentuk perilaku tersebut. Intinya, kita bisa menyebutnya sebagai alasan apa saja yang menggerakkan manusia untuk bertindak. Baik hal tersebut disadari ataupun tidak disadari oleh individu tersebut.</p>
            <p>Pada intinya, paradigma ini percaya bahwa manusia mempunyai kontrol untuk menentukan pilihan perilaku mereka. Selain menekankan pada individu tersebut, paradigma kualitatif juga menilai bahwa fenomena atau peristiwa harus dilihat secara menyeluruh. Tak cukup hanya dengan melihat fenomena tersebut tanpa melihat alasan ataupun penyebab dari peristiwa yang terjadi. Melihat peristiwa yang terjadi disertai dengan penyebab terjadinya, maka paradigma kualitatif dapat menjadi pilihan yang tepat untuk digunakan.</p>
            <p>Penelitian kualitatif merupakan suatu model penelitian yang bersifat humanistik, dimana manusia dalam penelitian ini ditempatkan sebagai subyek utama dalam suatu peristiwa sosial. Dalam hal ini hakikat manusia sebagai subyek memiliki kebebasan berfikir dan menentukan pilihan atas dasar budaya dan sistem yang diyakini oleh masing-masing individu. Paradigma kualitatif meyakini bahwa dalam suatu sistem kemasyarakatan terdapat suatu ikatan yang menimbulkan keteraturan. Keteraturan ini terjadi secara alamiah, oleh karenanya tugas seorang peneliti sosial adalah mencari. Berdasarkan hal tersebut penelitian kualitatif pada dasarnya adalah satu kegiatan sistematis untuk menemukan suatu teori dalam sebuah realita sosial bukan menguji teori atau hipotesis. Sehingga, secara epistemologis paradigma kualitatif senantiasa mengakui adanya fakta empiris di lapangan yang dijadikan sumber pengetahuan akan tetapi teori yang ada tidak dijadikan sebagai tolak ukur verifikasi. Dalam penelitian kualitatif ini, proses penelitian menjadi lebih penting daripada sekedar hasil. Dalam penelitian kualitatif, proses menjadi hal yang amat harus diperhatikan, dimana peneliti sebagai pengumpul instrumen harus mampu menempatkan dirinya pada posisi seobjektif mungkin sehingga data yang dikumpulkan menjadi data yang mampu untuk dipertanggungjawabkan.</p>
         </sec>
         <sec>
            <title>Perbedaan Paradigma Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif</title>
            <p>Seperti dikemukakan sebelumnya, penelitian kuantitatif memiliki perbedaan paradigmatik dengan penelitian kualitatif. Secara garis besar, perbedaan dimaksud mencakup beberapa hal:</p>
            <p>Kuantitatif: Positivistik; Deduktif-Hipotetis; Partikularistik; Obyektif; Berorientasi kepada hasil; Menggunakan pandangan ilmu pengetahuan alam.</p>
            <p>Kualitatif: Fenomenologik; Induktif; Holistik; Subyektif; Berorientasi kepada proses; Menggunakan pandangan ilmu sosial/antropological.</p>
            <p>Lebih lanjut perbedaan paradigma kedua jenis penelitian ini dapat dielaborasi sebagai berikut.</p>
            <p>Paradigma Kuantitatif:</p>
            <list list-type="order">
               <list-item><p>Cenderung menggunakan metode kuantitatif, dalam pengumpulan dan analisa data, termasuk dalam penarikan sampel.</p></list-item>
               <list-item><p>Lebih menekankan pada proses berpikir positivisme-logis, yaitu suatu cara berpikir yang ingin menemukan fakta atau sebab dari sesuatu kejadian dengan mengesampingkan keadaan subyektif dari individu di dalamnya.</p></list-item>
               <list-item><p>Peneliti cenderung ingin menegakkan obyektifitas yang tinggi, sehingga tidak obstrusive dan berusaha mengendalikan situasi (controlled).</p></list-item>
               <list-item><p>Peneliti berusaha menjaga jarak sehingga peneliti tetap berposisi sebagai orang "luar" dari obyek penelitiannya.</p></list-item>
               <list-item><p>Bertujuan untuk menguji suatu teori/pendapat untuk mendapatkan kesimpulan umum (generalisasi) dari sampel yang ditetapkan.</p></list-item>
               <list-item><p>Berorientasi pada hasil, yang berarti juga kegiatan pengumpulan data lebih dipercayakan pada instrumen (termasuk pengumpul data lapangan).</p></list-item>
               <list-item><p>Kriteria data/informasi lebih ditekankan pada segi reliabilitas dan biasanya cenderung mengambil data konkrit (hard fact).</p></list-item>
               <list-item><p>Walaupun data diambil dari wakil populasi (sampel), namun selalu ditekankan pada pembuatan generalisasi.</p></list-item>
               <list-item><p>Fokus yang diteliti sangat spesifik (particularistik) berupa variabel-variabel tertentu saja. Jadi tidak bersifat holistik.</p></list-item>
            </list>
            <p>Paradigma Kualitatif:</p>
            <list list-type="order">
               <list-item><p>Cenderung menggunakan metode kualitatif, baik dalam pengumpulan maupun dalam proses analisisnya.</p></list-item>
               <list-item><p>Lebih mementingkan penghayatan dan pengertian dalam menangkap gejala (fenomenologis).</p></list-item>
               <list-item><p>Pendekatannya wajar, dengan menggunakan pengamatan yang bebas (tanpa pengaturan yang ketat).</p></list-item>
               <list-item><p>Lebih mendekatkan diri pada situasi dan kondisi yang ada pada sumber data, dengan berusaha menempatkan diri serta berpikir dari sudut pandang "orang dalam".</p></list-item>
               <list-item><p>Bertujuan untuk menemukan teori dari lapangan secara deskriptif dengan menggunakan metode berpikir induktif. Jadi bukan untuk menguji teori atau hipotesis.</p></list-item>
               <list-item><p>Berorientasi pada proses, dengan mengandalkan diri peneliti sebagai instrumen utama. Hal ini dinilai cukup penting karena dalam proses itu sendiri dapat sekaligus terjadi kegiatan analisis, dan pengambilan keputusan.</p></list-item>
               <list-item><p>Kriteria data/informasi lebih menekankan pada segi validitasnya, yang tidak saja mencakup fakta konkrit saja melainkan juga informasi simbolik atau abstrak.</p></list-item>
               <list-item><p>Ruang lingkup penelitian lebih dibatasi pada kasus-kasus singular, sehingga tekannya bukan pada segi generalisasinya melainkan pada segi otensitasnya.</p></list-item>
               <list-item><p>Fokus penelitian bersifat holistik, meliputi aspek yang cukup luas (tidak dibatasi pada variabel).</p></list-item>
            </list>
         </sec>
      </sec>
      <sec>
         <title>4. KESIMPULAN</title>
         <p>Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandangan peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan pelakuan peneliti terhadap ilmu dan teori, yang di konstruksi sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari. Jenis paradigma penelitian dapat dijadikan sebagai indikator untuk menentukan pendekatan, metode, dan jenis penelitian sehingga penelitiannya berkualitas. Jenis paradigma penelitian dibagi menjadi 3, yaitu positivis, interpretif, dan kritis. Paradigma kuantitatif juga mempunyai pandangan bahwa sumber ilmu salah satunya yaitu pemikiran rasional data empiris. Pemikiran tersebut didasari dari kesesuaian dengan teori terdahulu yang umumnya disebut sebagai koherensi. Sedangkan paradigma penelitian kualitatif adalah penelitian yang menempatkan manusia sebagai subjek penelitian. Paradigma tersebut termasuk menganut model humanistik karena menjadikan manusia sebagai subjek penelitian di dalam fenomena ataupun peristiwa yang akan kita teliti.</p>
      </sec>
   </body>
   <back>
      <ref-list>
         <title>REFERENSI</title>
         <ref id="bib1">
            <element-citation publication-type="journal">
               <person-group person-group-type="author">
                  <name><surname>Ahimsa Putra</surname></name>
               </person-group>
               <year>2012</year>
               <article-title>Paradigma Profetik Dalam Pengajaran Dan Penelitian Ilmu Hukum, dalam Jawahir Thontowi</article-title>
               <source>UNISIA</source>
               <volume>XXXIV</volume>
               <issue>76</issue>
            </element-citation>
         </ref>
         <ref id="bib2">
            <element-citation publication-type="book">
               <person-group person-group-type="author">
                  <name><surname>Kasiram</surname><given-names>Moh</given-names></name>
               </person-group>
               <year>2008</year>
               <source>Metodelogi Penelitian: Refleksi Pengembangan dan Penguasaan Metodelogi Penelitian</source>
               <publisher-loc>Malang</publisher-loc>
               <publisher-name>PT UIN Malang Press</publisher-name>
            </element-citation>
         </ref>
         <ref id="bib3">
            <element-citation publication-type="book">
               <person-group person-group-type="author">
                  <name><surname>Lubis</surname><given-names>A.Y</given-names></name>
               </person-group>
               <year>2014</year>
               <source>Filsafat Ilmu: Klasik hingga Kontemporer</source>
               <publisher-loc>Jakarta</publisher-loc>
               <publisher-name>PT Raja Grafindo Persada</publisher-name>
            </element-citation>
         </ref>
         <ref id="bib4">
            <element-citation publication-type="journal">
               <person-group person-group-type="author">
                  <name><surname>Muslim</surname></name>
               </person-group>
               <year>2016</year>
               <article-title>Varian-Varian Paradigma, Pendekatan, Metode, Dan Jenis Penelitian Dalam Ilmu Komunikasi</article-title>
               <source>Wahana</source>
               <volume>1</volume>
               <issue>10</issue>
               <fpage>78</fpage>
               <lpage>79</lpage>
            </element-citation>
         </ref>
         <ref id="bib5">
            <element-citation publication-type="book">
               <person-group person-group-type="author">
                  <name><surname>Salim</surname><given-names>Agus</given-names></name>
               </person-group>
               <year>2016</year>
               <source>Teori dan Paradigma Penelitian Sosial</source>
               <publisher-loc>Yogyakarta</publisher-loc>
               <publisher-name>Tiara Wacana</publisher-name>
            </element-citation>
         </ref>
         <ref id="bib6">
            <element-citation publication-type="book">
               <person-group person-group-type="author">
                  <name><surname>Sugiyono</surname></name>
               </person-group>
               <year>2011</year>
               <source>Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif</source>
               <publisher-loc>Bandung</publisher-loc>
               <publisher-name>Alfabeta</publisher-name>
            </element-citation>
         </ref>
         <ref id="bib7">
            <element-citation publication-type="book">
               <person-group person-group-type="author">
                  <name><surname>Suharsaputra</surname></name>
               </person-group>
               <year>2012</year>
               <source>Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Tindakan</source>
               <publisher-loc>Bandung</publisher-loc>
               <publisher-name>Reflika Aditama</publisher-name>
            </element-citation>
         </ref>
      </ref-list>
   </back>
</article>
