Pendekatan pembelajaran konvensional yang berpusat pada guru menghasilkan pemahaman konseptual yang dangkal dan keterampilan praktis siswa yang belum berkembang optimal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan terhadap sumber primer berupa karya teoretis Piaget, Vygotsky, dan Woolfolk, serta sumber sekunder dari jurnal-jurnal ilmiah terkait pembelajaran konstruktivistik. Kajian ini menghasilkan sintesis baru berupa adaptasi pembelajaran konstruktivistik dalam konteks nilai-nilai Islam melalui: (1) dimensi epistemologis yang mengintegrasikan konstruksi pengetahuan dengan nilai tauhid dan akhlak, (2) dimensi metodologis yang menghubungkan metode konstruktivistik dengan tradisi munazarah, halaqah, dan tadabbur, (3) dimensi aksiologis yang mengarahkan pembelajaran pada pembentukan karakter dan spiritualitas, dan (4) dimensi pedagogis yang menempatkan guru sebagai murabbi dan uswatun hasanah. Implementasi pembelajaran konstruktivistik menuntut transformasi peran guru dari pusat informasi menjadi fasilitator dan pembimbing belajar dengan evaluasi formatif yang menilai proses dan hasil belajar secara holistik.

Januari - Juni 2026
Semua artikel dalam issue ini telah melalui proses penelaahan sejawat, revisi, dan diterbitkan dalam bentuk final. Setiap artikel memiliki DOI permanen serta metadata yang lengkap, sehingga dapat segera disitasi. Jurnal ini menerapkan model publikasi berkelanjutan (continuous publication), di mana artikel diterbitkan daring secara individual segera setelah menyelesaikan seluruh proses editorial dan produksi. Issue berfungsi sebagai wadah administratif untuk periode penerbitan dan dapat diperbarui pada akhir periode. Perubahan pada level issue dapat mencakup deskripsi, catatan editorial, atau detail administratif lainnya, namun tidak memengaruhi versi final artikel maupun DOI naskah. Oleh karena itu, pembaca dan penulis sebaiknya selalu menyitasi artikel menggunakan tanggal publikasi daring dan DOI naskah.
Artikel
5 Naskah- DOI: 10.64464/tarbiyah.v5i1.263
- DOI: 10.64464/tarbiyah.v5i1.265
Penelitian ini mengkaji pelaksanaan pembiasaan setoran hafalan Al-Qur'an sebagai sarana penguatan karakter religius siswa sekolah dasar, yang dilatarbelakangi oleh kesenjangan antara penguasaan pengetahuan agama dan perwujudannya dalam tindakan moral sehari-hari. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan mekanisme program, menganalisis perannya terhadap perubahan sikap religius, serta mengidentifikasi faktor-faktor determinan dan strategi guru. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif di Sekolah Dasar Islam Terpadu Quran Annida Sukabumi, melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil temuan menunjukkan bahwa program yang terstruktur dalam tiga tahap, yaitu murojaah klasikal, persiapan mandiri, dan setoran individu, secara nyata mentransformasi perilaku siswa pada aspek kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, dan etika. Keberhasilan ini didukung oleh lingkungan religius dan keteladanan guru, sementara hambatan berupa perbedaan daya ingat, kecemasan, serta minimnya pendampingan orang tua diatasi melalui pendekatan diferensiasi, penguatan positif, dan komunikasi kolaboratif berbasis digital. Simpulan penelitian menegaskan bahwa habituasi sistemik melalui setoran hafalan efektif membentuk kepribadian Qur'ani, yang memperkuat sekaligus memperluas teori pendidikan karakter dengan menyoroti peran ekosistem dan strategi pedagogis. Implikasi praktisnya mendorong kolaborasi tri pusat pendidikan dan kurikulum berorientasi proses, sedangkan implikasi teoretisnya memperkaya psikologi pendidikan Islam tentang internalisasi nilai melalui ritual keagamaan terstruktur.
- DOI: 10.64464/tarbiyah.v5i1.271
Penelitian ini mengkaji secara sangat mendalam, komprehensif, dan ekstensif mengenai implementasi kedisiplinan dan manajemen waktu dalam perencanaan pembelajaran berbasis kerangka teoretis pendidikan Islam, dengan merujuk secara mendalam pada pemikiran Abuddin Nata (2001) serta literatur kontemporer lainnya. Di tengah kompleksitas dunia pendidikan modern abad ke-21 yang sarat akan disrupsi, perencanaan pembelajaran seringkali mengalami reduksi makna menjadi sekadar pemenuhan administrasi formal tanpa substansi kedisiplinan yang kokoh. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis dengan elaborasi data empiris yang luas serta telaah pustaka mendalam, studi ini membuktikan bahwa internalisasi nilai-nilai disiplin waktu secara konsisten mampu mendongkrak produktivitas akademik, membentuk karakter profetik peserta didik, serta mengoptimalkan akuntabilitas profesional tenaga pendidik. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa manajemen waktu yang terstruktur berdasarkan prinsip religius-pedagogis tidak hanya menciptakan keteraturan iklim kelas, tetapi juga memastikan tercapainya tujuan kurikuler secara efektif dan efisien. Implikasi penelitian ini menegaskan urgensi reformasi manajerial berkelanjutan di lembaga pendidikan Islam untuk menjadikan kedisiplinan waktu sebagai pilar utama pembentukan mutu institusi.
- DOI: 10.64464/tarbiyah.v5i1.270
Adopsi cepat perangkat kecerdasan buatan generatif (AI generatif) seperti ChatGPT di kalangan mahasiswa telah melampaui pemahaman keilmuan mengenai konsekuensi psikologisnya. Meskipun perhatian besar telah dicurahkan pada isu integritas akademik dan kapabilitas teknologi, perhatian sistematis terhadap bagaimana penggunaan AI generatif membentuk keyakinan diri, kapasitas regulasi diri, dan kesejahteraan psikologis mahasiswa, yang notabene menjadi ranah inti keilmuan psikologi pendidikan, relatif masih terbatas. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) untuk mensintesis literatur empiris dan teoretis pada tiga fokus psikologis, yaitu: (1) efikasi diri dan motivasi belajar mahasiswa pengguna AI generatif; (2) regulasi diri belajar dan risiko cognitive offloading akibat ketergantungan pada AI generatif; serta (3) kesejahteraan psikologis dan kontrol diri akademik mahasiswa pengguna AI generatif. Sumber data dihimpun dari studi empiris terindeks, teori sosial-kognitif klasik, dan dokumen panduan kelembagaan yang terbit dalam rentang 1977-2025, dianalisis secara tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan AI generatif secara empiris berasosiasi dengan peningkatan efikasi diri akademik, selaras dengan teori sosial-kognitif Bandura, namun kemudahan yang sama ini juga memicu cognitive offloading yang menurut bukti eksperimental berkaitan dengan "kemalasan metakognitif" (metacognitive laziness) dan pelemahan proses regulasi diri belajar. Lebih lanjut, sebuah studi mediasi bersampel besar menemukan bahwa intensitas penggunaan AI generatif yang lebih tinggi berasosiasi signifikan dengan kontrol diri dan kesejahteraan akademik yang lebih rendah, dengan kontrol diri berperan sebagai mediator parsial hubungan tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa AI generatif berfungsi sebagai pedang bermata dua yang nyata secara psikologis bagi mahasiswa: ia dapat memperkuat kepercayaan diri dan motivasi sesaat, sekaligus mengikis kapasitas regulasi diri dan kontrol diri yang menjadi fondasi kesejahteraan akademik jangka panjang, sehingga penumbuhan keterampilan metakognitif dan regulasi diri secara sengaja menjadi prioritas mendesak bagi praktik psikologi pendidikan di perguruan tinggi.
- DOI: 10.64464/tarbiyah.v5i1.273
Artikel ini mengkaji secara teoritis integrasi nilai-nilai Islam dalam kurikulum pendidikan modern melalui pendekatan studi pustaka (library research). Kajian ini diperlukan karena literatur pendidikan Islam kontemporer masih membahas model-model integrasi secara terpisah tanpa sintesis yang sistematis. Tiga rumusan masalah diangkat: (1) bagaimana landasan filosofis integrasi nilai Islam dalam pendidikan modern; (2) bagaimana model-model integrasi kurikulum berbasis nilai Islam yang berkembang dalam literatur; dan (3) apa implikasi pedagogis integrasi tersebut terhadap praktik pembelajaran. Sintesis teori dilakukan terhadap karya-karya tokoh seperti Ismail Raji al-Faruqi, Syed Muhammad Naquib al-Attas, dan Fazlur Rahman, serta dua puluh dua literatur sekunder kontemporer tentang kurikulum integratif yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang eksplisit. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi nilai Islam dalam pendidikan modern tidak bersifat dikotomis melainkan holistik, mencakup dimensi epistemologis, aksiologis, dan ontologis. Perbandingan sistematis menunjukkan bahwa Model Islamisasi Pengetahuan al-Faruqi, konsep ta'dib al-Attas, dan pendekatan rekonstruktif Rahman saling melengkapi pada dimensi konten, tujuan, dan metodologi, sehingga dapat disintesiskan menjadi Model Kurikulum Integratif Islam (IICM). Implikasi pedagogisnya mencakup reorientasi tujuan pembelajaran, redesain materi ajar, dan restrukturisasi metodologi pengajaran, meskipun penerapannya menghadapi tantangan institusional, ketersediaan bahan ajar, dan tekanan akuntabilitas berbasis capaian kognitif. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kerangka teoritis kurikulum pendidikan Islam integratif yang relevan dengan konteks pendidikan Indonesia dan abad ke-21.