Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi mahasiswa Pendidikan Agama Islam terhadap pembelajaran online serta kontribusinya terhadap tingkat kecerdasan spiritual mahasiswa. Pembelajaran online merupakan salah satu bentuk inovasi pendidikan berbasis teknologi yang banyak digunakan dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi. Namun, pelaksanaannya menimbulkan berbagai persepsi di kalangan mahasiswa yang diduga berpengaruh terhadap kemampuan spritual mahasiswa dalam berinteraksi, berkomunikasi, dan menyesuaikan diri di lingkungan akademik maupun spritual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif korelasional. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, sedangkan sampel penelitian diambil menggunakan teknik sampling tertentu sesuai kebutuhan penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan uji validitas, reliabilitas, analisis deskriptif, serta uji korelasi untuk mengetahui kontribusi persepsi mahasiswa terhadap tingkat kecerdasan spiritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa Pendidikan Agama Islam terhadap pembelajaran online berada pada kategori cukup baik. Mahasiswa menilai bahwa pembelajaran online memberikan kemudahan akses materi dan fleksibilitas waktu belajar, namun masih terdapat kendala dalam interaksi dan pemahaman materi pembelajaran. Tingkat kecerdasan spiritual mahasiswa berada pada kategori sedang hingga baik, yang terlihat dari kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi, bekerja sama, dan beradaptasi dalam lingkungan spritual akademik. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat kontribusi positif antara persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran online dengan tingkat kecerdasan spiritual. Semakin positif persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran online, maka semakin baik pula tingkat kecerdasan spiritual yang dimiliki mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa Pendidikan Agama Islam terhadap pembelajaran online berada pada kategori cukup baik. Mahasiswa menilai bahwa pembelajaran online memberikan kemudahan akses materi dan fleksibilitas waktu belajar, namun masih terdapat kendala dalam interaksi dan pemahaman materi pembelajaran. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat kontribusi positif antara persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran online dengan tingkat Spiritual Quotient. Semakin positif persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran online, maka semakin baik pula tingkat Spiritual Quotient yang dimiliki mahasiswa.

Juli - Desember 2026
Semua artikel dalam issue ini telah melalui proses penelaahan sejawat, revisi, dan diterbitkan dalam bentuk final. Setiap artikel memiliki DOI permanen serta metadata yang lengkap, sehingga dapat segera disitasi. Jurnal ini menerapkan model publikasi berkelanjutan (continuous publication), di mana artikel diterbitkan daring secara individual segera setelah menyelesaikan seluruh proses editorial dan produksi. Issue berfungsi sebagai wadah administratif untuk periode penerbitan dan dapat diperbarui pada akhir periode. Perubahan pada level issue dapat mencakup deskripsi, catatan editorial, atau detail administratif lainnya, namun tidak memengaruhi versi final artikel maupun DOI naskah. Oleh karena itu, pembaca dan penulis sebaiknya selalu menyitasi artikel menggunakan tanggal publikasi daring dan DOI naskah.
Artikel
3 Naskah- DOI: 10.64464/tarbiyah.v5i2.264
- DOI: 10.64464/tarbiyah.v5i2.267
Tinjauan sistematis ini mengkaji studi empiris terbaru (2021–2026) mengenai metode pembelajaran inovatif dalam pembelajaran ilmu pengetahuan bumi dan antariksa di sekolah dasar, dengan berfokus pada pemahaman konseptual dan keterlibatan siswa. Menggunakan pedoman PRISMA 2020, kami menelusuri basis data akademik utama (Scopus, Web of Science, ERIC, ScienceDirect, dan lain-lain) untuk memperoleh artikel yang telah melalui proses penelaahan sejawat (peer-reviewed). Sintesis tematik kami mengungkapkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis inkuiri, berbasis proyek, STEM/STEAM, berbasis permainan, dan pembelajaran digital (termasuk augmented reality dan virtual reality) merupakan pendekatan yang paling sering diterapkan. Sebagai contoh, pembelajaran yang mengutamakan pendekatan STEAM terbukti mendorong perubahan konseptual yang lebih mendalam dibandingkan metode yang hanya berbasis STEM, sementara aktivitas berbasis augmented reality (AR) secara konsisten meningkatkan pemahaman, motivasi, dan kolaborasi siswa. Teknologi imersif (AR/VR) meningkatkan kemampuan visualisasi terhadap konsep-konsep abstrak dan memperkuat keterlibatan siswa, yang sering kali menghasilkan ukuran efek yang besar terhadap hasil belajar dan efikasi diri. Pembelajaran berbasis permainan juga memberikan manfaat dengan ukuran efek sedang hingga besar terhadap hasil belajar kognitif dan afektif. Persepsi dan pelatihan guru muncul sebagai faktor yang sangat penting; pengembangan profesional meningkatkan kemampuan pendidik dalam merancang tugas-tugas STEM yang bersifat praktik langsung (hands-on) serta meningkatkan motivasi belajar siswa. Tantangan yang dilaporkan meliputi kesenjangan pengetahuan konten guru dan keterbatasan sumber daya. Meskipun hasil penelitian menunjukkan temuan yang positif, masih terdapat kesenjangan dalam memahami dampak jangka panjang, generalisasi lintas konteks, serta pengaruh gabungan dari berbagai inovasi pembelajaran. Kami mensintesis implikasi praktis dengan mendorong pengembang kurikulum dan pembuat kebijakan untuk mendukung pelatihan guru, mengintegrasikan teknologi (misalnya simulasi AR) secara tepat, serta menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung inkuiri dan kolaborasi. Penelitian di masa mendatang perlu mengeksplorasi konteks yang lebih beragam dan berbagai teknologi baru guna semakin meningkatkan literasi ilmu pengetahuan bumi dan antariksa pada siswa sekolah dasar.
- DOI: 10.64464/tarbiyah.v5i2.269
Proliferasi perangkat kecerdasan buatan generatif (AI generatif) telah mengguncang asumsi fundamental evaluasi pembelajaran di pendidikan tinggi, khususnya premis bahwa sebuah produk tulisan yang dikumpulkan mahasiswa secara andal mencerminkan kompetensi individu yang bersangkutan. Penelitian ini menerapkan desain kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) untuk mengkaji bagaimana bidang evaluasi pembelajaran merespons disrupsi tersebut, dengan tiga fokus, yaitu: (1) redesain instrumen asesmen menuju tugas otentik yang tahan terhadap AI; (2) validitas dan reliabilitas instrumen deteksi AI yang digunakan untuk menjaga integritas evaluasi; serta (3) pergeseran paradigma evaluasi sumatif menuju formatif yang dimungkinkan oleh umpan balik berbasis AI generatif. Data dihimpun dari jurnal terindeks, satu studi empiris multi-alat berskala internasional, dan literatur teori evaluasi klasik yang terbit dalam rentang 2011-2025, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa literatur redesain asesmen mengerucut pada tugas berorientasi proses dan berpikir tingkat tinggi yang secara struktural sulit diotomatisasi penuh, selaras dengan teori penyelarasan konstruktif (constructive alignment). Namun demikian, pengujian empiris terhadap alat deteksi AI mengungkap persoalan reliabilitas yang serius, dengan tingkat akurasi di bawah 80% pada mayoritas alat yang diuji serta risiko tuduhan keliru (false accusation) yang terdokumentasi, sehingga alat tersebut tidak layak dijadikan satu-satunya bukti dalam keputusan evaluasi yang berisiko tinggi. Sementara itu, umpan balik otomatis berbasis AI generatif menunjukkan potensi untuk menskalakan umpan balik formatif yang cepat, meski kualitas pedagogisnya masih bervariasi dan tetap memerlukan pengawasan manusia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan di era AI generatif harus secara simultan meredesain objek yang dinilai, memperlakukan teknologi deteksi sebagai bukti pendukung dan bukan bukti final, serta mengarahkan ulang budaya evaluasi dari penjagaan gerbang sumatif menuju praktik formatif yang berkelanjutan dan dialogis.