Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di tingkat SMP masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait rendahnya hasil belajar dan kurangnya keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh pendekatan konvensional yang masih banyak digunakan guru. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan model pembelajaran yang inovatif dan mampu meningkatkan partisipasi serta pemahaman siswa.Penelitian ini membandingkan efektivitas model Problem Based Learning dan Blended Learning dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Metode eksperimen digunakan dengan desain posttest-only control group pada siswa kelas IX SMP Negeri 3 Panyabungan. Data diperoleh melalui tes esai dan dianalisis menggunakan uji-t. Hasil menunjukkan bahwa model PBL menghasilkan nilai belajar yang lebih tinggi dibandingkan Blended Learning. Temuan ini menunjukkan bahwa PBL lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa dalam konteks mata pelajaran PAI.

TARBIYAH: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Pengajaran
Edisi Vol. 4 No. 2 (2025), TARBIYAH: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Pengajaran memuat artikel-artikel yang relevan dengan bidang pendidikan dan pengajaran Islam, mencakup inovasi pembelajaran, pemikiran pendidikan Islam, pengembangan kurikulum PAI di era digital, serta isu-isu kontemporer dalam pendidikan. Artikel-artikel ini memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi pengembangan keilmuan dan praktik pendidikan. Penulis dalam edisi ini berasal dari beragam afiliasi institusi di Indonesia, meliputi SMP Negeri, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Jawa Timur. Keberagaman afiliasi dan perspektif ini menegaskan peran TARBIYAH sebagai jurnal ilmiah nasional yang berkontribusi dalam penguatan wacana dan praktik pendidikan Islam.
Artikel
5 Naskah- DOI: 10.64464/tarbiyah.v4i2.193
- DOI: 10.64464/tarbiyah.v4i2.202
Makalah ini membahas peta konsep sebagai media pembelajaran dalam pendidikan Islam. Peta konsep berfungsi mengorganisasi pengetahuan secara sistematis, membantu peserta didik memahami keterkaitan unsur-unsur utama pendidikan Islam seperti aqidah, ibadah, akhlak, ilmu, dan dakwah. Melalui visualisasi, metode ini meningkatkan motivasi, pemahaman, serta kemampuan berpikir kritis. Selain itu, peta konsep mendukung integrasi ilmu agama dan pengetahuan umum sehingga lebih relevan dengan kebutuhan zaman. Meski menghadapi tantangan implementasi, peta konsep dinilai efektif dalam memperkuat kualitas pembelajaran dan membentuk insan Muslim beriman, berilmu, serta berakhlak mulia.
- DOI: 10.64464/tarbiyah.v4i2.209
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di Era Digital pada MTS serta tantangan dan solusinya. dengan fokus utama pada tantangan yang dihadapi dan solusi yang dapat diterapkan. Metode penelitian yang digunakan berupa studi pustaka dan analisis deskriptif terhadap dokumen kurikulum serta pengalaman implementasi di dera digital. Hasil studi mengungkapkan bahwa pengembangan kurikulum PAI menghadapi kendala seperti keterbatasan sumber daya manusia dan finansial, kurangnya penggunaan teknologi dalam pembelajaran, serta rendahnya keterlibatan stakeholder dalam proses penyusunan dan evaluasi kurikulum. Selain itu, permasalahan motivasi belajar siswa dan variasi strategi pembelajaran juga menjadi faktor penghambat terlaksananya kurikulum secara optimal. Upaya solusi yang disarankan meliputi pelatihan peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan, integrasi teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran PAI, peningkatan kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat, serta penyesuaian konten kurikulum agar relevan dengan kebutuhan dan tantangan zaman. Pengembangan kurikulum PAI yang responsif dan adaptif diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan membentuk generasi yang religius, kritis, dan berkarakter di era digital.
- DOI: 10.64464/tarbiyah.v4i2.254
Penelitian ini bertujuan menganalisis pemikiran Fatima Mernissi tentang kesetaraan gender dan implikasinya terhadap pendidikan Islam. Kajian ini dilatarbelakangi masih kuatnya praktik ketidaksetaraan gender dalam masyarakat Muslim yang kerap dilegitimasi melalui penafsiran keagamaan bias patriarkal. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, dengan sumber data berupa karya-karya Fatima Mernissi dan literatur ilmiah relevan. Data dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif-analitis dengan pendekatan historis dan sosiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Fatima Mernissi menegaskan Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi prinsip keadilan dan kesetaraan gender serta menolak subordinasi perempuan yang bersumber dari konstruksi sosial dan politik. Mernissi menggunakan pendekatan kritis terhadap teks keagamaan, khususnya hadis misoginis, dengan menempatkannya dalam konteks historis dan sosiologis. Dalam perspektif pendidikan Islam, pemikiran Mernissi menempatkan pendidikan sebagai sarana utama pemberdayaan perempuan dan pembentukan relasi gender yang berkeadilan. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa kesetaraan gender dalam pendidikan Islam sejalan dengan nilai-nilai dasar ajaran Islam dan perlu diwujudkan melalui pembacaan ulang teks keagamaan yang kontekstual dan berperspektif keadilan.
- Hal. 450-453DOI: 10.64464/tarbiyah.v4i2.216
Penelitian ini bertujuan menjelaskan konsep, aplikasi, dan pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di Madrasah Ibtidaiyah. Kurikulum PAI memiliki peran penting dalam membentuk peserta didik yang beriman, berakhlak mulia, serta mampu mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kajian ini menggunakan metode studi pustaka, dengan mengumpulkan data dari buku digital, ebook, dan sumber pustaka relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kurikulum PAI mencakup nilai tauhid, ibadah, akhlak, dan muamalah yang diintegrasikan dalam pembelajaran. Implementasi kurikulum dilakukan melalui perencanaan, pelaksanaan, pembiasaan religius, serta evaluasi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pengembangan kurikulum menuntut relevansi, kontekstualisasi, serta pemanfaatan teknologi agar sesuai kebutuhan peserta didik dan tuntutan zaman.